tutorial blog
berikut ini tutorial pembuatan blog. klik DISINIberikut ini klik DISINI
13 makanan khas Aceh
Jagat Resep - Aceh adalah wilayah yang mempunyai
beragam kekayaan alam, kekayaan ilmu pengetahuan, kekayaan budaya dan
kekayaan agama yang sangat tinggi. Hal inilah yang membuat Aceh menjadi
daerah yang spesial dari zaman kerajaan, penjajahan hingga zaman modern
sekarang ini. Kota yang mendapat julukan "Serambi Mekkah" ini selain
terkenal dengan wisata budaya juga tidak ketinggalan dengan wisata
kulinernya. Beraneka ragam sajian kuliner yang membuat lidah kita
bergoyang. Maka tidak heran kalau kita berkunjung ke Aceh akan
didapatkan panganan khas Aceh. Apa saja makanan tradisional khas Aceh
tersebut, yuk kita simak.
1. Mie Aceh
Mie Aceh, satu jenis kuliner yang menggoda dari Aceh, dapat dicicipi
dengan dua cara, yakni di goreng atau direbus alias menggunakan kuah.
Untuk rasa bisa memilih sendiri, apakah ingin pedas atau tidak. Sebagai
variasi bisa meggunakan kepiting, daging atau seafood. Variasi inilah
yang nanti menentukan nama mienya.
2. Sate Matang
Sate matang sudah bergema di setiap kota seluruh Aceh, medan bahkan
Jakarta. Di mana ada masyarakat Aceh bermukim di kota-kota besar di
Indonesia. Pasti ada gerobak yang bertulis sate “sate matang” .
Dinamakan sate matang karena asalnya dari daerah Matang, Bireuen. Yang
bikin special sate ini karena makanya dengan kuah soto. Di Banda Aceh,
banyak warung yang menyediakan makanan ini, salah satunya adalah di Rex
Peunanyong.
3. Kuah Pliek U
Kuah Pliek 'U adalah makan aceh yang sangat populer dengan campuran
berbagai rasa dan kaya akan vitamin serta zat-zat yang bisa meningkatkan
gairah dan kekebalan tubuh.
Selain itu juga Kuah Pliek 'U juga merupakan makanan yang melambangkan
kekerabatan dan keanekaragaman dalam masyarakat Aceh yang dapat
disatukan dalam satu kuali, sehingga mengasilkan rasa yang unik dan
digemari oleh seluruh masyarakat di luruh dunia. kuah Pliek 'U juga
merupakan media memperkenalkan hasil alam Aceh yang begitu kaya akan
jenis sayurnya sehingga dengan menyantap kuah Piek 'U berarti kita telah
menyantap seluruh sayuran yang ada di Aceh. Masakan ini wajib dimakan,
karena pergi ke Aceh tanpa makan Kuah Pliek 'U, sama seperti belum pergi
ke Aceh. Masakan ini sangat mudah didapatkan, 90% rumah makan di Aceh
pasti menyediakan Kuah Pliek 'U.
4. Gulai Kambing
Gulai kambing Aceh mempunyai rasa yang khas, karena memakai bumbu khas
Aceh. dimasak dengan menggunakan kuali besi yang besar dan terus di
panaskan. Artinya kapanpun anda pesan gulai kambing selalu dihidangkan
dalam keadaan panas, daging kambing nya pun empuk dan tidak bau. Anda
juga akan di hidangkan daging rebus cincang yang di campur dengan bawang
dan cabe rawit tumbuk serta jeruk nipis sebagai pelengkap gulai
kambing. Kalo berkunjung ke Banda Aceh jangan lupa untuk mencicipi
hidangan yang satu ini.
5. Kuah Masam Keu-eung
Masakan Asam Pedas adalah masakan yang ada hampir diseluruh Indonesia,
bahkan Asia Tenggara dengan nama bermacam-macam. Di Aceh Masakan ini
bernama Asam Keueung atau Masam Keueung yang arti secara harfiah adalah
Masam Pedas.
6, Kuah Sie Itek
Masakan Itik atau Bebek sangat banyak ragam dan macamnya di Nusantara.
Tapi yang ini jelas beda karena masakan bebek ini punya resep sendiri
dari Aceh. Gule itek dari Aceh yang paling terkenal dating dari Bireun
di daerah ini bumbunya sangat terasa. Penasaran? Anda bisa langsung
mencobanya di restoran-restoran khas Aceh yang ada di sekitar tempat
tinggal anda
7. Ayam Tangkap
Ayam tangkap merupakan makanan khas Aceh Besar, terbuat dari ayam yang
di goreng dengan cabe hijau dan daun Teumuru atau Salam Koja atau Daun
Kari (orang Aceh menyebutnya Teumuru sementara 2 nama lainnya saya dapat
dari. Rasanya memang seperti ayam goreng biasa ditambahi aroma daun
teumuru dan cabai hijau sehingga mempunyai sensasi rasa tersendiri.
Ayamnya dipotong kecil-kecil sehingga tersembunyi dibalik tumpukan daun
teumuru dan cabai hijau goreng serta taburan bawang goreng di atasnya,
mungkin karena tersembunyi itulah maka dinamakan ayam tangkap
.
8. Rujak Aceh
Anda tentu tak asing lagi dengan rujak. Kudapan sehat itu terbuat dari
aneka buah segar yang dicocol dengan sambal gula merah yang menggoda.
Namun, pernahkah Anda mencoba rujak Aceh? Berbeda dengan rujak yang
biasa kita makan, rujak Aceh ini memiliki ciri khas tersendiri yang
membuat rasanya berbeda dan rujak pada umumnya.
Yang membuat rujak Aceh berbeda adalah buah yang dipakai. Rujak Aceh
menggunakan buah rumbia khas Aceh. Buah yang daunnya digunakan untuk
membuat atap rumah ini diserut bersama buah-buahan lainnya.
Rujak Aceh sudah menjadi makanan tradisional di daerah ini sejak lama.
Makanan ini nikmat dimakan dalam keadaan dingin atau dicampur dengan es
serut dengan siraman saus rujak dan dinikmati di siang hari yang terik.
9. Martabak Aceh
Martabak ini adalah martabak khas Aceh yang berbeda dari martabak yang
biasa kita kenal. Bagaimana dengan cita rasa makanannya? Martabaknya
tentu berbeda dengan martabak yang biasa kita temui.
Dengan bahan dasar roti Cane, Sedangkan martabaknya sepintas mirip
dengan telor dadar biasa, tapi ketika digigit baru terasa perbedaannya.
Martabak ini menggunakan roti cane sebagai "kulitnya", dan dengan rasa
yang gurih dan sedikit pedas, martabak aceh ini enak untuk disantap
sebagai cemilan dan Sangat dianjurkan dinikmati dengan Coffee.
10. Ungkot Kemamah
Ungkot Kemamah merupakan masakan khas Aceh lainnya dengan cita rasanya
yang sangat menantang. Persis seperti bentuknya, ikan kemamah terbuat
dari ikan tuna yang telah direbus dan dikeringkan yang kemudian
diiris-iris. Ikan kemamah dapat dimasak dengan menggunakan berbagai
bahan masakan, seperti santan kelapa, kentang, cabai hijau dan bahan
rempahan lainnya. Selama perang Aceh melawan Belanda di hutan belantara,
jenis masakan ini sangat terkenal karena sangat mudah dibawa dan
dimasak.
11. Kue Adee
Kue tradisional sejenis bingkang manis ini, hanya bisa ditemui di Aceh,
khususnya di kawasan kabupaten Pidie Jaya. Namanya pun tak susah untuk
dilafal, yakni Adee.
Adee merupakan jenis kue bertekstur lembut, legit, dan manisnya berasal
dari gula asli. Sepintas kue ini mirip dengan bingkang. Adee bisa
menjadi paduan enak saat menyeruput segelas kopi atau teh. Juga bisa
menjadi hidangan istimewa untuk menjamu tamu. Atau pun sebagai oleh-oleh
untuk teman dan kerabat di luar kota.
12. Kue Timphan
Hidangan kue khas Aceh disaat lebaran atau hari raya baik hari raya Idul
fitri maupun Idul Adha, Timphan ini dibuat 1 atau 2 hari sebelum
lebaran dan daya tahannya bisa mencapai lebih kurang seminngu,Timphan
adalah menu hidangan utama buat tamu yang berkunjung kerumah saat
lebaran.
Timphan yang merupakan makanan lembek berbalut daun pisang muda ini yang
paling terkenal adalah Timphan rasa srikaya. Sebelum menjelang lebaran
bisanya ibu-ibu sudah menyiapkan daun pisang muda baik memetik di kebun
atau beli dipasar
13. Kopi Aceh
Jangan mengaku pecandu kopi jika belum pernah merasakan nikmat dan
kedahsyatannya kopi Aceh. Aceh dari dulu memang terkenal sebagai salah
satu penghasil kopi terbesar di Indonesia, dengan cita rasanya yang khas
dan aroma yang kuat, seperti kopi Aceh Gayo.
Kopi Aceh pada dasarnya sama dengan kopi-kopi pada umumnya. Namun,
karena cara penyajiannya yang agak berbeda, kopi Aceh memiliki perbedaan
rasa malah di dalamnya terdapat kandungan antitoksin, menambah stamina
tubuh dan dapat mengencangkan kulit.
Kopi aceh sangat spesial rasanya karena Anda tidak akan menemukan kopi
senikmat kopi aceh di daerah manapun di Indonesia. Hal menarik saat
menikmati kopi di Aceh adalah dengan bersantai dan bercanda dengan
teman-teman dan kerabat. Menikmati kopi di Aceh adalah pengalaman yang
unik dan langkasumber : http://jagat-resep.blogspot.com/2013/08/13-makanan-tradisional-khas-dari-aceh.html
tarian aceh
Jenis Jenis Tarian Aceh
Hari ini Admin akan mempublikasikan
beberapa jenis tarian yang berasal dari salah satu daerah di Indonesia,
khususnya Daerah Provinsi Aceh, Aceh memang terkenal dengan tarian
Seudatinya, selain sudati, masih banyak tarian yang ada di daerah ini,
berikut ulasannya……
Tari Seudati
Kata seudati berasal dari bahasa Arab
syahadati atau syahadatain yang berarti kesaksian atau pengakuan. Selain
itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati berasal dari kata
seurasi yang berarti harmonis atau kompak. Seudati mulai dikembangkan
sejak agama Islam masuk ke Aceh. Penganjur Islam memanfaatkan tarian ini
sebagai media dakwah untuk mengembangkan ajaran agama Islam. Tarian ini
cukup berkembang di Aceh Utara, Pidie dan Aceh Timur. Tarian ini
dibawakan dengan mengisahkan pelbagai macam masalah yang terjadi agar
masyarakat tahu bagaimana memecahkan suatu persoalan secara bersama.
Pada mulanya tarian seudati diketahui sebagai tarian pesisir yang
disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan, diperagakan untuk
mengawali permainan sabung ayam, atau diperagakan untuk bersuka ria
ketika musim panen tiba pada malam bulan purnama
Tari Saman
Tari Saman adalah salah satu tarian
daerah Aceh yang paling terkenal saat ini. Tarian ini berasal dari
dataran tinggi Gayo. Syair saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa
Aceh. Pada masa lalu, Tari Saman biasanya ditampilkan untuk merayakan
peristiwa peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Selain itu
biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi
Muhammad. Pada kenyataannya nama “Saman” diperoleh dari salah satu ulama
besar Aceh, Syech Saman. Tari Saman biasanya ditampilkan menggunakan
iringan alat musik, berupa gendang dan menggunakan suara dari para
penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan dengan
memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan
menghempaskan badan ke berbagai arah. Tarian ini dipandu oleh seorang
pemimpin yang lazimnya disebut Syech.
Tari Ranup Lampuan
Tari Ranup Lampuan merupakan salah satu
karya seni monumental yang dilahirkan oleh para seniman Aceh. Ranup
Lampuan dalam bahasa Aceh, berarti sirih dalam puan. Puan adalah tempat
sirih khas Aceh. Karya tari yang berlatar belakang adat istiadat ini
secara koreografi menceritakan bagaimana kebiasaan masyarakat Aceh
menyambut tamu ini setiap gerakannya mempunyai arti tersendiri. Seperti
gerakan salam sembah, memetik sirih lalu membuang tangkainya,
membersihkan sirih, menyapukan kapur, lalu memberi gambir dan pinang,
sampai menyuguhkan sirih kepada yang datang. Pada awalnya, tari ini
tidak menggunakan selendang sebagai properti, dan penarinya memakai
sanggul Aceh yang tinggi dihiasi hiasan kepala. Tarian yang berdurasi
tiga sampai sembilan menit ini diiringi orkestra atau band.

Tari Rateeb Meuseukat
Tari rateeb meuseukat adalah tarian yang
dilakukan dengan cara duduk bersila dan dilakukan oleh wanita berbaris
menyamping sambil menyanyi tarian itu adalah tarian rateeb meuseukat,
yang berasal dari aceh nama rateeb meuseukat berasal dari bahasa arab
yaitu rateb asal kata ratib yang artinya ibadat, sedangkan meuseukat
artinya diam. Tari Rateb Meuseukat ini dimainkan oleh para wanita.
Sedangkan Tarian Saman sesungguhnya dimainkan oleh para pria.
Tari Rapa’I Geleng
Rapa’i geleng adalah salah satu alat
tabuh seni dari Aceh. Alat tabuh ini dikenal dengan nama Rebana. Rapa’i
(Rebana) terbagi kepada beberapa jenis permainan, Rapa’i Geleng salah
satunya. Permainan Rapa’i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang
melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan
penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan
dinamisasi masyarakat dalam syair (lagu-lagu) yang dinyanyikan. Fungsi
dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral kepada
masyarakat, dan juga menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam
masyarakat sosial. Rapa’i Geleng pertama kali dikembangkan pada tahun
1965 di Pesisir Pantai Selatan. Nama Rapa’i diadopsi dari nama Syeik
Ripa’i yaitu orang pertama yang mengembangkan alat musik pukul ini.
Syair yang dibawakan tergantung pada Syahi. Hingga sekarang syair-syair
itu banyak yang dibuat baru namun tetap pada fungsinya yaitu berdakwah.
Jenis tarian ini dimaksudkan untuk laki-laki. Biasanya yang memainkan
tarian ini ada 12 orang laki-laki yang sudah terlatih. Syair yang
dibawakan adalah sosialisasi kepada mayarakat tentang bagaimana hidup
bermasyarakat, beragama serta solidaritas yang dijunjung tinggi.
Tari Meusaree-saree
Secara etimologis meusaree-saree adalah
bersama sama atau bergotong royong dalam melakukan suatu pekerjaan. Nama
tarian ini sesuai dengan gerakan para penari yang menggambarkan orang
yang sedang bekerja sama menarik jala dan gerakan orang yang menanam
padi. Tarian ini menggambarkan semangat gotong royong masyarakat aceh
dalam usaha mata pencaharian mereka. Baik sebagai nelayan maupun petani,
tari meusaree-saree digubah oleh yuslizar pada tahun 1958 awalnya
tarian ini diciptakan dalam rangka memeriahkan kongres pemuda pada tahun
1958 di kota bandung.
Tari Top Padee
Tarian ini dimulai dengan irinngan lagu
top padee bersamaan dengan alunan lagu itu para penari baik perempuan
maupun laki laki masuk dari arah kiri maupun arah kanan panggung. Diatas
panggung, para penari kemudian membentuk dua banjar barisan dengan
komposisi barisan 4-4 atau 4-3 dalam beberapa variasi. Setelah itu, para
penari membentuk komposisi 5-3 pada komposisi ini para penari laki laki
duduk berlutut dengan gerakan seperti orang yang sedang menananm padi.
Tari Tarek Pukat
Dalam bahasa aceh, tarek pukat berarti
menarik jala ikan, dimana kegiatan ini berlangsung di daerah pesisisr,
yang merupakan kegiatan rutin para nelayan. Kegiatan tarek pukat sangat
kental akan kebudayaan aceh, sebagai mana kita tau daerah aceh di
kelilingi oleh pesisisr laut. Selain itu, tarek pukat merupakan sebuah
tarian daerah yang dimana tarian ini menggambarkan tentang kegiatan
“menarek pukat” Tarek pukat merupakan salah satu tarian daerah aceh yang
sangat terkenal. Tarian ini menceritakan tentang bagaimana kehidupan
rakyat aceh yang tinggal di pesisisr pantai, dimana sebagian besar
bermata pencarian sebagai nelayan,
Tari Landok Sampot
Jika suku bangsa Aceh menyambut tamu
dengan Ranup Lampuan, Gayo dengan tari Guel-nya, maka di Kluet memiliki
tari persembahan yang berbeda, yaitu Landok Sampot. Sejarahnya versi
pertama. Menurut keyakinan masyarakat Kluet, tarian Landok Sampot
diciptakan oleh seorang Panglima Negeri Kluet yang bernama Amat Sa’id.
Tarian ini mulai berkembang pada masa pemerintahan Raja Imam Balai
Pesantun dan Teuku Keujreun Pajelo. Tarian Landok Sampot dijadikan
tarian adat yang disakralkan dalam setiap upacara adat. Sayangnya
penciptanya tidak sempat melihat karyanya dicintai masyarakat Kluet.
Karena sebelum tarian ini berkembang, Ahmad Sa’id hilang dan tidak
pernah kembali dari sebuah perjalanan di Gunung Lawe Sawah. Sehingga
masyarakat menyebut gunung tersebut dengan nama Gunung Amat Sa’id.
Tari Gedumbak
Gedumbak ini berasal dari Gle Genteng
aceh pidie yang erat hubungannya dengan Puloe Raga kecamatan Betoeng
Ateuh Jeuram. Biasanya permainan gedumbak ini sering diikutsertakan
dengan tari Pho. Pho di dalam rumah, sedang pemain gedumbak di luar
rumah, yang syair/ lagu kedua tari ini bersahut-sahutan atau balas
membalas. Pada mulanya tari gedumbak ini sering ditulari magic, oleh
karenannya Alim Ulama tidak sependapat untuk di kembangkan sebagai tari
tradisional aceh pada waktu itu. Bahkan sebahagian mengatakan perminan
ini di haramkan karena kata-kata dalam syair dan lagunya tidak sesuai
dengan ajaran agama. Tetapi setelah syair dan lagu di ubah dan di
sesuaikan dengan ajaran agama baru dapat di kembangkan dan di terima
oleh masyarakat setempat. Kata gedumbak ini berasal dari pada bunyi:
gedum. .bak, gedum ..bak, yang kemudian di ringkas menjadi “ GEDUMBAK “.
Kesenian ini masih ada sampai sekarang di Puloe Ie kecamatan Seunagan/
Kuala Kabupaten Aceh Barat.
sumber: https://hajatil.wordpress.com/2014/04/07/jenis-jenis-tarian-aceh/
tarian aceh
sanggar rampoe
tarian linggang meuganto
sanggar rampoe tarian cangklak
sanggar rampoe tarian ratoh jaroe
tarian ranup lampuan\
taian saman
tarian rateb meusekat
tarian rapai geleng
tarian seudati
Masih Rela Rejekimu Dipatok Ayam? 8 Tips Rahasia Buat Kamu Yang Suka Malas-Malasan Di Tempat Tidur
Saat
pagi datang, seringkali kita masih mau menggeliat dan malas-malasan di
atas tempat tidur. Tidak peduli dengan matahari yang udah naik, jam
weker maupun alarm yang teriak-teriak memintamu untuk bangun, kita tetap
asyik bergelut dengan selimut, kembali bersiap untuk tidur ronde kedua.
Bangun pagi memang bukan perkara yang
mudah. Kabar buruknya adalah hidup, waktu, dan hari bakal terus
berjalan, guys. Apa kabarnya kerjaan kalau kita terus malas-malasan?
Masa’ mau rejekinya terus dipatok ayam? Kapan kita mau gantian matokin
rejekinya ayam?
Nah, supaya kamu bisa lebih semangat memulai hari, ada cara-cara yang bisa kamu coba. Ini dia beberapa di antaranya:1. Temukan Motivasimu
Temukan motivasimu untuk bangun pagi
saat rasa malas dan bisikan setan mulai mengajakmu untuk kembali ke
nyamannya tempat tidurmu. Motivasi itu sendiri bisa bermacam-macam
bentuknya: entah itu untuk bisa menikmati sarapan bersama keluarga,
menghindari macet, atau bahkan membuktikan bahwa kamu bisa juga bangun
on-time.
Tantang dirimu sendiri untuk bangun dari tempat tidurmu!
2. Perhatikan Kesehatanmu
Rasa malas yang kamu alami di pagi hari
bisa jadi adalah indikator buruk buat kesehatanmu. Mungkin aja kamu
butuh makanan yang lebih sehat lagi, kekurangan atau justru terlalu
banyak istirahat, atau kurang olahraga. Mulai cermati hal-hal kecil
tersebut dan segera tangani masalahnya dengan benar.
3. Perhatikan Juga Jam Biologismu
Tubuh kita layaknya sebuah sistem yang
bisa mengatur dirinya sendiri. Jika kamu ingin bangun lebih pagi dari
biasanya, cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan bertahap.
Majukan waktu bangunmu sebanyak 10-15 menit, dan ulangi selama 2 atau 4
hari.
Hal ini dimaksudkan agar sistem tubuhmu nggak kaget dengan waktu bangun pagi yang harus berubah.
4. Sediakan Segelas Air Minum Di Meja Tidurmu
Meminum segelas air putih setelah kamu
bangun tidur tidak hanya baik untuk organ-organ dalammu, tapi juga akan
smembuatmu merasa segar. Kamu pun gak lagi berminat untuk malas-malasan.
Jadi mulai sekarang biasakanlah menaruh segelas air putih di meja
tidurmu.
5. Jauhkan Jam Alarmmu
Jika selama ini alarm sama sekali tidak
berguna untukmu, mungkin saja masalahnya karena letaknya yang masih
berada di dalam jangkauan tanganmu. Meletakkan alarm di dekatmu hanya
akan membuatmu menekan tombol snooze dan kembali ke nyamannya tempat
tidurmu.
Untuk mencegahmu menekan tombol snooze
dan membuatmu bergegas bangun saat alarmmu berdering adalah dengan
meletakknnya jauh dari jangkauan tanganmu. Dengan trik kecil ini kamu
akan dipaksa bangun dari tempat tidur.
6. Melompatlah Dari Tempat Tidurmu
Jika berjalan untuk mematikan alarm yang
ada di seberang kamar masih belum bisa membuatmu bersemangat, mungkin
ini tandanya kamu harus melompat untuk mengawali pagimu. Melompat dari
tempat tidurmu akan membuat tubuhmu lebih banyak bergerak sehingga kamu
akan merasa excited dan menghilangkan rasa malas yang sering menggelayutimu di pagi hari.
7. Jangan Makan Cokelat, Minum Kopi, Lebih-Lebih Minum Minuman Beralkohol
Jenis makanan dan minuman ini dapat
bertahan perlu waktu untuk dapat dikeluarkan, yang telah terbukti secara
klinis dapat menggangu tidurmu lebih daripada jenis makanan yang
lainnya. Jadi supaya kamu bisa tidur nyenyak dan nggak lagi
bermalas-malasan, hindari konsumsi cokelat, kopi serta alkohol.
8. Tambahkan Aromaterapi di Dalam Kamarmu
Tambahkan sentuhan aromatik yang akan membuatmu bersemangat. Beberapa wewangian seperti aroma jeruk, aroma anggur, atau aroma mint bisa kamu coba untuk memberikan semangat untuk pagi harimu.9. Hentikan Kebiasaan “Balas Dendam”-mu Di Akhir Pekan
Tubuh kita secara alamiah menyukai
keteraturan. Ketika kamu balas dendam dengan tidur seharian di saat
weekend hanya karena kurangnya waktu tidurmu saat weekday, kamu bakal
mengacaukan waktu tidur dan jam biologismu. Jangan heran jika di hari
Senin kamu bakal ngalami sindrom I Hate Monday.
10. UnduhAplikasi Alarm Yang Susah Di-Snooze
Manfaatkan smartphone-mu dengan cara
yang memang bikin kamu tambah smart. Unduh beberapa aplikasi alarm yang
sulit di-snooze, seperti MathAlarm, PuzzleAlarm, atau TiltAlarm. Ini bisa kamu memaksamu benar-benar bangun dan mencegahmu bermalas-malasan di pagi hari.
Nah itu dia 10 tips dan trik yang bisa
bikin kamu benar-benar bangun dan mencegahmu untuk kembali
bermalas-malasan di atas tempat tidur. Ayo dipraktekin; nanti rejekimu
habis dipatok, lho!
Artikel yang membuatmu lebih produktif ini diadaptasi dari Pop Sugar.
sumber: https://www.lintas.me/lifestyle/other/hipwee.com/masih-rela-rejekimu-dipatok-ayam-ini-8-tips-rahasia-buat-kamu-yang-suka-malas-malasan-di-tempat-tidur
Sejarah Aceh
Aceh (bahasa Belanda: Atchin atau Acheh, bahasa Inggris: Achin, bahasa Perancis: Achen atau Acheh, bahasa Arab: Asyi, bahasa Portugis: Achen atau Achem, bahasa Tionghoa: A-tsi atau Ache)[1][2] yang sekarang dikenal sebagai provinsi Aceh diperkirakan memiliki substrat (lapis bawah) dari rumpun bahasa Mon-Khmer [3] dengan pembagian daerah bahasa lain seperti bagian selatan menggunakan bahasa Aneuk Jame sedangkan bagian Tengah, Tenggara, dan Timur menggunakan bahasa Gayo untuk bagian tenggara menggunakan bahasa Alas seterusnya bagian timur lebih ke timur lagi menggunakan bahasa Tamiang demikian dengan kelompok etnis Klut yang berada bagian selatan menggunakan bahasa Klut sedangkan di Simeulue menggunakan bahasa Simeulue
akan tetapi masing-masing bahasa setempat tersebut dapat dibagi pula
menjadi dialek. Bahasa Aceh, misalnya, adalah berbicara dengan sedikit
perbedaan di Aceh Besar, di Pidie, dan di Aceh Utara. Demikian pula,
dalam bahasa Gayo ada Gayo Lut, Gayo Deret, dan dialek Gayo Lues dan
kelompok etnis lainnya Singkil yang berada bagian tenggara (Tanoh Alas) menggunakan bahasa Singkil.
sumber sejarah lainnya dapat diperoleh antara lain seperti dari hikayat
Aceh, hikayat rajah Aceh dan hikayat prang sabii yang berasal dari sejarah narasi yang kemudian umumnya ditulis dalam naskah-naskah aksara Jawi (Jawoe). Namun sebagaimana kelemahan dari sejarah narasi yang berdasarkan pinutur ternyata menurut Prof. Ibrahim Alfian bahwa naskah Hikayat Perang Sabil
mempunyai banyak versi dan satu dengan yang lain terdapat perbedaan
demikian pula dengan naskah Hikayat Perang Sabil versi tahun 1710 yang berada di perpustakaan Universitas Leiden di negeri Belanda.[4]
Paleografi rumpun bahasa Mon-Khmer.
Ada yang percaya bahwa asal usul orang Aceh adalah "suku Mantir" (atau dalam bahasa Aceh: Mantee)[5] yang dikaitkan dengan "Mantera" di Malaka dan orang berbahasa Mon-Khmer.[6] Menurut sumber sejarah narasi
lainnya disebutkan bahwa terutama penduduk Aceh Besar tempat
kediamannya di kampung Seumileuk yang juga disebut kampung Rumoh Dua
Blaih (desa Rumoh 12), letaknya di atas Seulimeum antara kampung Jantho
dengan Tangse. Seumileuk artinya dataran yang luas dan Mantir kemudian
menyebar ke seluruh lembah Aceh tiga segi dan kemudian berpindah-pindah
ke tempat-tempat lain.[7]
Budaya
Pengelompokan budaya dalam empat pembagian budaya berdasarkan kaum
(kawom) atau disebut pula sebagai suku (sukee) besar mengikuti
penelusuran antara lain melalui bahasa purba yakni;[5][8][9]
- Kaum Lhee Reutoh (kaum/sukee tiga ratus) yang berasal dari budaya Mantee sebagai penduduk asli.
- Kaum Imeuem Peuet (kaum/sukee imam empat) yang berasal dari India selatan yang beragama Hindu.
- Kaum Tok Batee (kaum/sukee yang mencukupi batu) yang datang kemudian berasal dari berbagai etnis Eurasian, Asia Timur dan Arab.
- Kaum Ja Sandang (kaum/sukee penyandang) yaitu para imigran India yang umumnya telah memeluk agama Islam.
Sejarah awal
Dalam sumber buku kronik kerajaan Liang [10] dan kerajaan Sui [11] di Tiongkok pernah disebutkan sekitar tahun 506 sampai 581 Masehi terdapat kerajaan Poli yang wilayah kekuasaannya meliputi Aceh Besar [12][13] sedangkan dalam Nāgarakṛtāgama di sebut sebagai Kerajaan Lamuri [14]
yang dalam sumber sejarah Arab disebut dengan Lamkrek, Lam Urik, Rami,
Ramni sedangkan dan dalam sumber sejarah Tiongkok lainnya disebut pula
dengan nama Lan Li, Lan-wuli atau Lan Wo Li dengan pelabuhan laut
bernama Ilamuridesam sebagaimana juga pernah disingahi dan ditulis oleh Marco Polo (1292) asal Venesia dalam buku perjalanan pulang dari Tiongkok menuju ke Persia (Iran)[15][16] saat itu masih berada dibawah pengaruh kedaulatan kerajaan Sriwijaya dibawah wangsa (dinasti) Syailendra dengan raja pertamanya Balaputera Dewa,
yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan yang kuat dan daerah
kekuasaannya meluas, meliputi Tulang Bawang, Pulau Bangka, Jambi,
Genting Kra dan pulau Jawa yang kemudian membangun Borobudur.[17]
Ketika kerajaan Sriwijaya sedang mencapai puncak kejayaannya dan
kemakmurannya yang memainkan peran penentu dengan menetapkan pola
perdagangan terdiri atas tiga lapisan yakni pelabuhan dan pergudangan
utama pada Palembang sedangkan pelabuhan dan pergudangan sub-regional seperti Ilamuridesam (Lamuri), Takuapa (Kedah), Jambi dan Lampung selanjutnya diikuti Sungsang serta beberapa pelabuhah kecil lainnya menggunakan alur sungai Musi dimana dalam hegemoni alur perdagangan ini kerajaan mendapatkan upeti berkemakmuran ternyata mengundang kedatangnya ekspedisi armada dari raja Rajendra Chola dari Chola India selatan pada tahun 1025 dengan melakukan serangan kepada seluruh pelabuhan-pelabuhan di Sriwijaya termasuk Ilamuridesam (Lamuri) dan Takuapa (Kedah) yang dihancurkan menjadi sunyi seperti yang diriwayatkan dalam prasasti Tanjore 1030
di India yang mengatakan bahwa dalam mengirimkan sejumlah kapal yang
sangat besar ke tengah-tengah laut lepas yang bergelombang sekaligus
menghancurkan armada gajahnya yang besar dari kerajaan melayu Sriwijaya
dan merampas harta benda yang sangat banyak berikut pintu gerbang ratna
mutu manikam terhias sangat permai, pintu gerbang batu-batu besar
permata dan akhirnya Raja Sriwijaya yang bernama Sanggrama Wijayatunggawarman dapat ditawan kemudian dilepas setelah mengaku takluk,[18] tak lama kemudian armada Chola
kembali kenegerinya sedangkan sejumlah lainnya menetap dan menjadi
bagian dari penduduk, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa
penyerangan tersebut lebih ditujukan untuk mengamankan atau pengambil
alihan jalur perdagangan pada selat Malaka yang pada waktu itu sudah
merupakan jalur perdagangan internasional yang penting daripada
melakukan sebuah pendudukan dikala kekuatan militer dan diplomasi
Sriwijaya sedang melemah[19] karena lebih tertuju pada perkembangan perdagangan.[20]
sejak kekalahan ini kewibawaan kerajaan Sriwijaya mulai menurun dengan
dratis yang memberikan peluang bagi kerajaan-kerajaan yang dahulu berada
dibawah kedaulatan Sriwijaya mulai memperbesar dan memperoleh kembali
kedaulatan penuh. Walaupun demikian keberadaan Sriwijaya baru berakhir
pada tahun 1377.
Samudera Pasai
kerajaan Islam Samudera-Pasai di Aceh dengan rajanya Malik Al Saleh dan diteruskan oleh cucunya Malik Al Zahir
Era Malik Al Saleh
Sebelum Dinasti Usmaniyah di Turki berdiri pada tahun 699 H-1341 H
atau bersamaan dengan tahun 1385 M-1923 M, ternyata nun jauh di belahan
dunia sebelah timur, di dunia bagian Asia, telah muncul Kerajaan Islam
Samudera-Pasai yang berada di wilayah Aceh yang didirikan oleh Meurah Silu (Meurah berarti Maharaja dalam bahasa Aceh) yang segera berganti nama setelah masuk Islam dengan nama Malik al-Saleh
yang meninggal pada tahun 1297. Dimana penggantinya tidak jelas, namun
pada tahun 1345 Samudera-Pasai diperintah oleh Malik Al Zahir, cucu
Malik al-Saleh.
Politik Samudera Pasai bertentangan dengan Politik Gajah Mada
Era Sultan Iskandar Muda
Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau, Sumatera Timur, hingga Perak di semenanjung Malaysia.
Aceh merupakan salah satu bangsa di pulau Sumatra yang memiliki tradisi militer, dan pernah menjadi bangsa terkuat di Selat Malaka, yang meliputi wilayah Sumatra dan Semenanjung Melayu, ketika dibawah kekuasaan Iskandar Muda.
Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang.
Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan
memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman
Istana) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih
karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang
berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.
Aceh melawan Portugis
Ketika Kesultanan Samudera Pasai dalam krisis, maka Kesultanan Malaka yang muncul dibawah Parameswara
(Paramisora) yang berganti nama setelah masuk Islam dengan panggilan
Iskandar Syah. Kerajaan Islam Malaka ini maju pesat sampai pada tahun
1511 ketika Portugis dibawah pimpinan Afonso d'Albuquerque dengan armadanya menaklukan Malaka.
Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, kembali Aceh bangkit dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah
(1514-1528). Yang diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537). Sultan
Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568). Sultan Ali Riyat Syah
(1568-1573). Sultan Seri Alam (1576. Sultan Muda (1604-1607). Sultan
Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636). Semua serangan
yang dilancarkan pihak Portugis dapat ditangkisnya.
Hubungan dengan Barat
Inggris
Pada abad ke-16, Ratu Inggris, Elizabeth I, mengirimkan utusannya bernama Sir James Lancester
kepada Kerajaan Aceh dan mengirim surat yang ditujukan: "Kepada Saudara
Hamba, Raja Aceh Darussalam." serta seperangkat perhiasan yang tinggi
nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik "saudarinya" di
Inggris dan mengizinkan Inggris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah
kekuasaan Aceh. Bahkan Sultan juga mengirim hadiah-hadiah yang berharga
termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis di atas
kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar
"Orang Kaya Putih".
Sultan Aceh pun membalas surat dari Ratu Elizabeth I. Berikut
cuplikan isi surat Sultan Aceh, yang masih disimpan oleh pemerintah
kerajaan Inggris, tertanggal tahun 1585:
| “ | Sayalah sang penguasa perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatra dan atas seluruh wilayah wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam. | ” |
Hubungan yang mesra antara Aceh dan Inggris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggris
dan Skotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk
Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal
dengan nama Meriam Raja James.
Belanda
Selain Kerajaan Inggris, Pangeran Maurits – pendiri dinasti Oranje–
juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan
Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan
rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid.
Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal
dunia. Ia dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri
oleh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang Belanda belum
pernah memakamkan orang Islam, maka dia dimakamkan dengan cara agama Nasrani di pekarangan sebuah gereja. Kini di makam dia terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Mendiang Yang Mulia Pangeran Bernhard suami mendiang Ratu Juliana dan Ayah Yang Mulia Ratu Beatrix.
Utsmaniyah
Pada masa Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang berkedudukan di Istanbul.
Karena saat itu Sultan Utsmaniyah sedang gering maka utusan Kerajaan
Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual
sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka.
Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan
mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan
menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa
orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam
tersebut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada
Sicupak. Pada masa selanjutnya Sultan Utsmaniyah mengirimkan sebuah
bintang jasa kepada Sultan Aceh.meriam tersebut menurut informasi kini
berada di desa Blang Balok kecamatan peureulak (sumber MAA Atim)
Perancis
Kerajaan Aceh juga menerima kunjungan utusan Kerajaan Perancis.
Utusan Raja Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah
cermin yang sangat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan
cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan serpihan cermin
tersebut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya, Denys Lombard
mengatakan bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda
berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan
Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya.
Menurut Utusan Perancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak
kurang dari dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud
Donya (kini Meuligo Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan
Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah.
Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran Sungai Krueng
Aceh hingga mengaliri istananya (sungai ini hingga sekarang masih dapat
dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe). Di sanalah sultan acap
kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.
Pasca-Sultan Iskandar Thani
Kerajaan Aceh sepeninggal Sultan Iskandar Thani
mengalami kemunduran yang terus menerus. Hal ini disebabkan kerana
naiknya empat Sultanah berturut-turut sehingga membangkitkan amarah kaum
Ulama Wujudiyah. Padahal, Seri Ratu Safiatudin Seri Ta'jul Alam Syah Berdaulat Zilullahil Filalam
yang merupakan Sultanah yang pertama adalah seorang wanita yang amat
cakap. Ia merupakan puteri Sultan Iskandar Muda dan Isteri Sultan
Iskandar Thani. Ia juga menguasai 6 bahasa, Spanyol, Belanda, Aceh, Melayu, Arab, dan Persia.
Saat itu di dalam Parlemen Aceh yang beranggotakan 96 orang, 1/4 di
antaranya adalah wanita. Perlawanan kaum ulama Wujudiyah berlanjut
hingga datang fatwa dari Mufti Besar Mekkah yang menyatakan keberatannya akan seorang wanita yang menjadi Sultanah. Akhirnya berakhirlah masa kejayaan wanita di Aceh.
Datangnya pihak kolonial
Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke-18 dengan Britania Raya (Inggris) dan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya.
Pada tahun 1824, Perjanjian Britania-Belanda ditandatangani: Britania menyerahkan wilayahnya di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah Perancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.
Perang Aceh
Tahun 1873 pecah perang Aceh melawan Belanda. Perang Aceh disebabkan karena:
- Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari perjanjian Siak 1858. Dimana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda ada dibawah kekuasaan Aceh.
- Belanda melanggar Siak, maka berakhirlah perjanjian London (1824). Dimana isi perjanjian London adalah Belanda dan Inggris membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Sinagpura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.
- Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan Aceh. Perbuatan Aceh ini disetujui Inggris, karena memang Belanda bersalah.
- Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalulintas perdagangan.
- Dibuatnya Perjanjian Sumatera 1871 antara Inggris dan Belanda, yang isinya, Inggris memberika keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Sumatera. Belanda mengizinkan Inggris bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guinea Barat kepada Inggris.
- Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia, Turki di Singapura. Dan mengirimkan utusan ke Turki 1871.
- Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia dan Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tengtang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.
Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik. Sebuah ekspedisi dengan 3.000 serdadu yang dipimpin Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler dikirimkan pada tahun, namun ekspedisi tersebut berhasil dikalahkan tentara Aceh, di bawah pimpinan Panglima Polem
dan Sultan Machmud Syah, yang telah memodernisasikan senjatanya. dan
bahkan Köhler sendiripun tewas tertembak di depan Mesjid Raya
Baiturrahman pada tanggal 10 April 1873.
Ekspedisi kedua di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten berhasil merebut istana sultan. Ketika Sultan Machmud Syah wafat pada tanggal 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai sultan Aceh di mesjid Indrapuri. Pada 13 Oktober 1880,
pemerintah kolonial setelah berhasil menguasai istana, menyatakan pada
dunia bahwa Aceh telah ditaklukan dan perang telah berakhir. namun
pernyataan pemerintah belanda ternyata salah besar, perang Aceh terus
berlanjut secara gerilya dengan semangat fi'sabilillah terus berkobar
diseluruh Aceh. perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1942
menjelang Jepang datang.
Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan Aceh meminta bantuan kepada perwakilan Amerika Serikat di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III dari Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman azh-Zhahir untuk meminta bantuan kepada Kalifah Usmaniyah. Namun Turki Utsmani kala itu sedang menghadapi invasi rusia yang mencaplok kawasanya seperti uzbekistan dan lain-lain. Sedangkan Amerika Serikat menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.
Perang kembali berkobar pada tahun 1883.
Pasukan Belanda berusaha membebaskan para pelaut Britania Raya yang
sedang ditawan disalah satu wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh, dan
menyerang kawasan tersebut. Sultan Aceh menyerahkan para tawanan dan
menerima bayaran yang cukup besar sebagai gantinya. Sementara itu,
Menteri Perang Belanda, August Willem Philip Weitzel, kembali menyatakan perang terbuka melawan Aceh. Belanda kali ini meminta bantuan para pemimpin setempat, diantaranya Teuku Umar. Teuku Umar diberikan gelar panglima perang besar dan pada 1 Januari 1894
bahkan menerima dana bantuan Belanda untuk membangun pasukannya.
Ternyata dua tahun kemudian Teuku Umar malah menyerang Belanda dengan
pasukan baru tersebut. Dalam perang gerilya ini Teuku Umar bersama
Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur. Tetapi pada tahun
1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van Der Dussen di
Meulaboh Teuku Umar gugur. Tetapi Cut Nya' Dhien, istri Teuku Umar
tampil menjadi komandan perang gerilya.
Pada tahun 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh. Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden
yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh,
kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan
kepada para ulama,
bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Dr Snouck Hurgronye
yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti
kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan
dengan judul Rakyat Aceh (De Atjehers). Dalam buku itu disebutkan rahasia bagaimana untuk menaklukkan Aceh.
Isi nasihat Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda yang bertugas di Aceh adalah:
- Mengesampingkan golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) beserta pengikutnya.
- Senantiasa menyerang dan menghantam kaum ulama.
- Jangan mau berunding dengan para pimpinan gerilya.
- Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya.
- Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh.
Pada tahun 1898, Joannes Benedictus van Heutsz
dinyatakan sebagai gubernur Aceh pada 1898-1904, kemudian Dr Snouck
Hurgronye diangkat sebagai penasihatnya, dan bersama letnannya, Hendrikus Colijn (kelak menjadi Perdana Menteri Belanda), merebut sebagian besar Aceh.
Sultan Muhammad Daudsyah akhirnya terpaksa meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903
setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap
oleh Belanda (Belanda menggunakan strategi licik dengan
menekan/menangkap keluarga sultan/pejuang Aceh untuk melemahkan
perjuangan mereka). setelah penyerahan diri sultan, perjuangan
mempertahankan kedaulatan Aceh dilanjutkan oleh Teungku Chik Di Tiro
Muhammad Saman setelah mendapat mandat sebagai wali nanggroe dari sultan
Muhammad Daudsyah sebelum menyerahkan diri. 1904.
Strategis licik penculikan anggota keluarga Pejuang/teuntara Aceh,
Misalnya Christoffel menculik permaisuri Sultan dan Tengku Putroe
(1902). Van der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya,
Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Van
der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali, Panglima Polem
dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap putera Panglima
Polem, Cut Po Raden, saudara perempuannya dan beberapa keluarga
terdekatnya. Akibatnya Panglima Polem meletakkan senjata dan menyerah ke
Lhokseumawe (1903). Akibat Panglima Polem menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polem.
Taktik licik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan di bawah pimpinan Van Daalen yang menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) dimana 2922 orang dibunuhnya, yang terdiri dari 1773 laki-laki, 1149 perempuan dan anak-anak.
Taktik terakhir menangkap Cut Nya' Dhien, istri Teuku Umar yang masih
melakukan perlawanan secara gerilya, walaupun kondisi fisik telah
sangat lemah bahkan matapun telah buta. Cut Nya' Dhien akahir dapat
ditangkap setelah pengawal kepercayaannya melakukan perjanjian rahasia
dengan belanda. Cut nyak Dhien kemudian diasingkan dan
meninggal/dikemumikan di Sumedang, Jawa Barat.
Surat tanda penyerahan
Van Heutz telah menciptakan surat pendek penyerahan yang harus
ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan
menyerah, yang isinya: Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian
dari daerah Hindia-Belanda. Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan
dengan kekuasaan di luar negeri. Berjanji akan mematuhi seluruh
perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. (RH Saragih, J Sirait, M
Simamora, Sejarah Nasional, 1987)
Bangkitnya nasionalisme
Sementara pada masa kekuasaan Belanda, bangsa Aceh mulai mengadakan
kerjasama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia dan terlibat dalam
berbagai gerakan nasionalis dan politik. Sarekat Islam, sebuah organisasi dagang Islam yang didirikan di Surakarta pada tahun 1912, tiba di Aceh pada sekitar tahun 1917. Ini kemudian diikuti organisasi sosial Muhammadiyah pada tahun 1923. Muhammadiyah membangun sebuah sekolah Islam di Kutaraja (kini bernama Banda Aceh) pada tahun 1929. Kemudian pada tahun 1939, Partai Indonesia Raya
(Parindra) membukan cabangnya di Aceh, menjadi partai politik pertama
di sana. Pada tahun yang sama, para ulama mendirikan PUSA (Persatuan
Ulama Seluruh Aceh), sebuah organisasi anti-Belanda.
Perang Dunia II
Aceh kian hari kian terlibat dalam gerakan nasionalis Indonesia. Saat Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh. (Nyak Arif lalu dilantik sebagai residen Aceh oleh gubernur Sumatra pertama, Mr. Teuku Muhammad Hasan).
Seperti banyak penduduk Indonesia dan Asia Tenggara lainnya, rakyat Aceh menyambut kedatangan tentara Jepang saat mereka mendarat di Aceh pada 12 Maret 1942,
karena Jepang berjanji membebaskan mereka dari penjajahan. Namun
ternyata pemerintahan Jepang tidak banyak berbeda dari Belanda. Jepang
kembali merekrut para uleebalang
untuk mengisi jabatan Gunco dan Sunco (kepala adistrik dan subdistrik).
Hal ini menyebabkan kemarahan para ulama, dan memperdalam perpecahan
antara para ulama dan uleebalang. Pemberontakan terhadap Jepang pecah di beberapa daerah, termasuk di Bayu, dekat Lhokseumawe, pada tahun 1942, yang dipimpin Teungku Abdul Jalil, dan di Pandrah dan Jeunieb, pada tahun 1944.
Masa Republik Indonesia
Kedudukan Aceh di dalam Republik Indonesia Serikat
41 tahun kemudian semenjak selesainya perang Aceh, Indonesia
diproklamasikan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Ternyata
perjuangan untuk bebas dari cengkraman Belanda belum selesai, sebelum Hubertus Johannes van Mook menciptakan negara-negara bonekanya yang tergabung dalam RIS (Republik Indonesia Serikat).
dan Aceh tidak termasuk salah satu negara bagian dari federal hasil
ciptaan Van Mook yang meliputi seluruh Indonesia yang terdiri dari:
- Negara RI, yang meliputi daerah status quo berdasarkan Perjanjian Renville.
- Negara Indonesia Timur.
- Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta
- Negara Jawa Timur
- Negara Madura
- Negara Sumatera Timur, termasuk daerah status quo Asahan Selatan dan Labuhan Batu
- Negara Sumatera Selatan
- Satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri, seperti Jawa Tengah, Bangka-Belitung, Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur.
- Daerah-daerah Indonesia selebihnya yang bukan daerah-daerah bagian.
Aceh sebagai salah satu daerah yang oleh Soekarno dianggap status
quo, kemudian dimasukkan ke dalam Republik Indonesia dengan cara
meleburkankan ke dalam provinsi sumatera utara. Sehingga Aceh termasuk
juga ke dalam sistem Republik Indonesia Serikat.
Yang terpilih menjadi Presiden RIS adalah Soekarno dalam sidang Dewan
Pemilihan Presiden RIS pada tanggal 15-16 Desember 1949. Pada tanggal
17 Desember 1949 Presiden Soekarno dilantik menjadi Presiden RIS. Sedang
untuk jabatan Perdana Menteri diangkat Mohammad Hatta. Kabinet dan
Perdana Menteri RIS dilantik pada tanggal 20 Desember 1949.
Belanda di bawah Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Drees, Menteri Seberang Lautan Mr. Maan Sassen dan ketua Delegasi RIS Mohammad Hatta
membubuhkan tandatangannya pada naskah pengakuan kedaulatan RIS oleh
Belanda dalam upacara pengakuan kedaulatan RIS pada tanggal 27 Desember 1949.
Pada tanggal yang sama, di Yogyakarta dilakukan penyerahan kedaulatan
RI kepada RIS. Sedangkan di Jakarta pada hari yang sama, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Antonius Hermanus Johannes Lovink
dalam suatu upacara bersama-sama membubuhkan tandangannya pada naskah
penyerahan kedaulatan. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949,
Sekretariat Negara RI, 1986)
Kembali ke Negara Kesatuan
Tanggal 8 Maret 1950 Pemerintah RIS dengan persetujuan Parlemen (DPR)
dan Senat RIS mengeluarkan Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950
tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS. Berdasarkan
Undang-Undang Darurat itu, beberapa negara bagian menggabungkan ke RI,
sehingga pada tanggal 5 April 1950 yang tinggal hanya tiga negara bagian
yaitu, RI, NST (Negara Sumatera Timur), dan NIT (Negara Indonesia
Timur).
Pada tanggal 14 Agustus 1950 Parlemen dan Senat RIS mengesahkan
Rancangan Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik
Indonesia hasil panitia bersama.
Pada rapat gabungan Parlemen dan Senat RIS pada tanggal 15 Agustus
1950, Presiden RIS Soekarno membacakan piagam terbentuknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Pada hari itu juga Presiden Soekarno
kembali ke Yogya untuk menerima kembali jabatan Presiden RI dari
Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI Mr. Asaat. (30 Tahun Indonesia
Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986)
Maklumat Negara Islam Indonesia Aceh
3 tahun setelah RIS bubar dan kembali menjadi RI, Daud Beureueh di Aceh memaklumatkan Negara Islam Indonesia di bawah Imam Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tanggal 20 September 1953.
Isi Maklumat NII di Aceh adalah:
| “ | Dengan lahirnja peroklamasi
Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah
kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh
pemerintah dari Negara Islam.
Dari itu dipermaklumkan kepada seluruh Rakjat, bangsa asing, pemeluk bermatjam2 Agama, pegawai negeri, saudagar dan sebagainja:
Gubernur Sipil/Militer Atjeh dan Daerah sekitarnja. MUHARRAM 1373 Atjeh Darussalam September 1953 |
” |
Daud Beureueh menyerah
Bulan Desember 1962, 7 bulan setelah Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo Imam NII tertangkap (4 Juni 1962) di atas Gunung Geber
di daerah Majalaya oleh kesatuan-kesatuan Siliwangi dalam rangka
Operasi Bratayudha, Daud Beureueh di Aceh menyerah kepada Penguasa
Daulah Pancasila setelah dilakukan "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh"
atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin. (30 Tahun
Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986)
Hasan Di Tiro mendeklarasi Negara Aceh Sumatera
14 tahun kemudian setelah Daud Beureueh pada masa Hasan Tiro
pada tanggal 4 Desember 1976 mendeklarasikan kembali (re-proklamasi)
kemerdekaan Aceh Sumatra. Bunyi deklarasi kemerdekaan Negara Aceh
Sumatra itu adalah:".[21]
| “ | "Kepada rakyat di seluruh dunia:
Kami, rakyat Aceh, Sumatera melaksanakan hak menentukan nasib
sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami,
dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol
politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa. Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976" |
” |
Akhir konflik
Lihat pula: Operasi militer Indonesia di Aceh (2003-2004)
Pada 26 Desember 2004, sebuah gempa bumi besar menyebabkan tsunami yang melanda sebagian besar pesisir barat Aceh, termasuk Banda Aceh, dan menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa.
Di samping itu telah muncul keinginan dari beberapa wilayah Aceh,
khususnya di bagian barat, selatan dan pedalaman untuk memisahkan diri
yang dipelopori oleh tokoh politik seperti Tagore, cut agam, dll untuk
membentuk 2 provinsi baru yang disebut dengan Provinsi Aceh Leuser
Antara yang terdiri dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Aceh Singkil, serta Provinsi Aceh Barat Selatan atau ABAS yang terdiri dari Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Simeulue, Aceh Barat dan Aceh Jaya.
Deklarasi pemekaran provinsi dilakuan secara bersama pada tanggal 4
Desember 2005 di Gelora Bung Karno, Jakarta yang dihadiri ratusan orang
dan 11 bupati yang ingin dimekarkan wilayahnya, dan dilanjutkan dengan
unjukrasa yang menuntut lepasnya 11 kabupaten tadi dari Aceh.
Pada 15 Agustus 2005,
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia akhirnya sepakat
untuk menandatangani persetujuan damai (MoU) dan sekaligus mengakhiri
konflik antara kedua pihak yang telah berlangsung selama hampir 30
tahun. Kesepakatan yang memberikan hak self government kepada Aceh.
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Aceh
kalau rekan mau mengetahui lebih tentang Aceh silahkan klik DISINI
Subscribe to:
Comments (Atom)
































